Kontribusi Perikanan Merosot. Siapa Yang Salah
Sektor perikanan di Indonesia tampaknya masih babak belur. Apalagi menghadapi krisis global belakangan ini, berbagai tantangan menghadang di depan mata. Bagaimana kita keluar dari krisis yang terus mendera?
Suasana seminar pada suatu hari di medio Maret lalu tidak seperti biasanya. Kabut krisis global tampak menyelimuti ruang yang dipakai sebagai ajang diskusi mencoba keluar dari himpitan krisis yang berkepanjangan.
Dr Aviliani, salah serorang pembicara dari Universitas Indonesia, lalu tampil. Ia lalu membuka catatan. “Ternyata, kontribusi dari sektor industri perikanan dan pertanian terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara selama tahun 2008 hanya mencapai 14,59 persen,” ujarnya.
Artinya, selama kurun 10 tahun (1999-2007) terjadi penurunan yang mencapai angka rata-rata 15,54 persen per tahun. ”Pemerintahan yang baru nantinya dituntut untuk memiliki strategi khusus guna menggenjot laju dua sektor tersebut industri ini,” saran Aviliani menyakinkan.
Industri Pengolahan
Menurutnya, sektor perikanan yang paling besar kontribusinya adalah dari industri pengolahan. Ironisnya, lanjut Aviliani, masih banyak pengusaha yang melakukan impor bahan baku untuk usahanya. Padahal sebenarnya di Indonesia memiliki banyak sumber daya perikanan.
Di Indonesia sendiri belum banyak orang atau perusahaan yang tertarik untuk bermain di dua sektor, hulu dan hilir. ”Sementara ini pengusaha kita hanya bermain di hulunya saja,” ujarnya. Ambil contoh banyak udang hasil budidaya yang langsung diekspor. Padahal nilai ekonomisnya lebih rendah daripada produk jadi hasil olahan.
”Itulah kenapa nilai ekspor perikanan kita setiap tahun tidak mengalami peningkatan yang signifikan,” katanya. Faktor kedua, belum dimilikinya brand produk dalam skala internasional.
”Kebanyakan brand yang kita buat berasal dari rekanan,” ujar Aviliani. Artinya, nilai ekspor yang selama ini didapatkan berasal dari rekanan negara lain. Sebut saja banyaknya makanan kaleng yang beredar selama ini atas nama perusahaan-perusahaan asing.
”Padahal, bahan bakunya berasal dari produk ekspor kita,” ujar Aviliani. Imbasnya tentu saja negara-negara konsumen lebih mengenal makanan yang dikonsumsinya itu berasal dari negara asing di luar Indonesia. Tentu saja yang menikmati nilai tambah ekspornya adalah negara atau perusahaan asing rekanan tersebut.
Masalah lain yang membuat produksi perikanan di Indonesia berjalan tersendat adalah masih fokusnya pembangunan di sisi hulu. ”Kita punya banyak pembudidaya, kapal penangkap ikan, tapi miskin industri pengolahannya,” katanya.
Padahal, menurut Avialiani, jika ingin menambah dan meningkatkan produk ekspor perikanan maka kedua sektor tersebut seharusnya bisa berjalan dengan seimbang. ”Jika ini bisa dicapai maka posisi ekpor dan tawar kita kepada negara konsumen akan lebih tinggi,” katanya.
Ia juga melihat jika selama ini nelayan Indonesia lebih banyak bermain dan berdiri sendiri. ”Saya melihat masih minimnya bimbingan dari pemerintah terhadap mereka,” ujar Ketua Jurusan Manajemen, Universitas Paramadina, Jakarta ini.
Ia menunjuk pada pola penangkapan, pengolahan, serta pemasaran yang cenderung tidak mengikuti kaidah atau standar yang diinginkan pasar internasional. Karena itu, menurutnya, wajar jika akhirnya banyak produk perikanan dari Indonesia yang ditolak pasar internasional karena dinilai tidak memenuhi standar yang diminta. ”Ujung-ujungnya produk kita dihargai sangat rendah,” tuturnya.
Selengkapnya di Majalah Samudra Edisi April 2009



0 komentar:
Posting Komentar