MAJALAH SAMUDRA ADALAH REFERENSI TEPAT INFORMASI KELAUTAN DAN PERIKANAN INDONESIA YANG ANDA BUTUHKAN
Edisi Juli 2009....
Adaptasi Perubahan Iklim
Sejumlah kota di Asia Tenggara rentan terhadap perubahan iklim. Jutaan warga harus direlokasi. Jakarta kota yang paling rentan
Teropong
Perairan Ambalat kembali memanas. Siapa yang paling berhak memiliki blok yang kaya akan minyak tersebut ?


Segera Hubungi Layanan Jual Kami !!!
Telp : (021) 782 7012



Rabu, Juli 15, 2009

Ikan Asin Cincang Rebung



Untuk menyelamatkan kerusakan sisa hasil tangkapan nelayan.
Mereka mengolah menjadi ikan asin unggulan yang diminati.
Kendala utama perlu dukungan modal usaha.

Puluhan tampa berisi ikan gulama, juwalai dan lidah berukuran sedang terhampar di sekitar halaman yang ditumbuhi rumput meranggas kering. Jemuran ikan asin hasil olahan skala rumah tangga itu, jika ditimbang semuanya hanya mencapai empat puluhan kilo gram. “Kami mengeringkan ikan asin dengan bantuan sinar matahari. Memang idealnya memakai pemanasan melalui oven, kami tak mampu membelinya ” kata Bachtiar (43) wirausaha pengeringan ikan di Kampung Nelayan Indah, Medan Labuhan, Medan Utara, kepada Samudra, Jumat (8/5) lalu.

Selain sebagai pedagang ikan asin, ia juga sebagai nelayan kecil yang melaut dengan kapal berbobot satu gross tone (GT). Menurut Ayah lima anak ini, sekarang mencari ikan semakin sulit dan jaraknya harus semakin jauh lagi. Sementara, kapal milik tauke yang digunakan relatif kecil, dan tidak ada kemampuan menjangkau puluhan mil dari pantai. “Modal melaut dengan hasilnya, sudah tidak sebanding lagi,” keluhnya.

Sementara alat tangkap yang digunakan para nelayan di kampung ini masih sangat sederhana. Semisal, pancing tunda, pancing cacar, pukat layang, dan jaring pinggir. Jenis ikan yang didapat antara lain, tongkol, selayang, kerapu, udang, cumi, lembur kuring, kurisi, selar dan bawal. “Nelayan disini, pergi pagi kembali sore hari. Kami tidak jauh mencari ikan hanya 4 sampai 5 mil dari pantai,” ujar nelayan Regar(39).

Menurut Ir Wahid Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan, pihaknya sudah melakukan pembinaan kepada masyarakat nelayan di wilayahnya. Semisal, memberikan bantuan modal usaha, bantuan kapal berbobot 3 GT dan peralatan tangkap senilai Rp 50 juta. Namun, mengingat jumlah nelayan sekitar 12.000 orang, bantuan tersebut memang belum merata. “Kami menyalurkan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan, agar lebih terkoordinir dan memenuhi sasaran,”kilahnya, kepada Samudra.

Bantuan sarana penangkapan ikan, tentunya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan bagi nelayan. Belum lama ini, lanjutnya telah memberikan bantuan berupa enam rumpon di wilayah perairan Belawan. Dengan demikian, diharapkan dengan alat rumpon tersebut, nelayan dapat menghemat biaya dan waktu dan hasilnya jauh lebih baik lagi. “Karena tempat menangkap ikan (rumpon) tidak jauh dari pantai,” katanya.

Untuk meningkatkan ketrampilan para nelayan, pihaknya bekerjasama dengan UPTD (unit pelaksana teknis daerah) Balai Pelatihan dan Pendidikan. Melalui program pelatihan bagi para nelayan tentang mengenal alat tangkap yang modern dan efisien. Juga belajar mengetahui kondisi cuaca angin, ombak dan lain sebagainya. “Semua kegiatan tersebut kami melibatkan nelayan yang tergabung dalam KUB di sini,” tuturnya.

Sementara itu Nasaruddin (61) pemilik enam kapal berukuran 5 GT, mengeluhkan usaha menangkap ikan yang digelutinya kini semakin merosot. Untuk sekali melaut satu kapalnya membutuhkan modal Rp 4 sampai Rp 5 juta yang diawaki 5 orang nelayan. Hasilnya, hanya Rp 6 sampai Rp 7 juta, jika dikonversikan maka uang yang dibawa pulang hanya Rp 200.000 tiap orang untuk seminggu melaut. “Jika sebelum kenaikan BBM, kami bisa sedikit menabung. Kalau sekarang habis untuk dimakan saja,” katanya.

Jika musim angin barat tiba, pihaknya hanya bisa pasrah dan kapal-kapal miliknya ditambatkan menunggu musim angin berlalu. Maka terpaksa para nelayan mencari alternatif penghasilan lain. Kebanyakan nelayan bekerja serabutan, yang penting dapat bertahan hidup. “ Memang, terkadang ada bantuan dari pemerintah setempat, ya ala kadar saja, namun tidak bisa menolong kesulitan yang kami hadapi,” tukas Ketua KUB Putra Deli Bestari.

Potensi Dan Peluang Usaha

Pengembangan potensi dan peluang usaha di sektor perikanan dan kelautan di kota Medan, akan didorong pada keberadaan pasar dan komoditi. Potensi wilayah kota ini memiliki sumberdaya alam yang belum dikembangkan secara optimal. Jenis komoditas unggulan perikanan yang telah banyak dibudidayakan adalah kepeting lembek, udang dan lobster air tawar.

Untuk sektor perikanan tangkap, yang menjadi unggulan adalah hasil laut berupa cumi-cumi,udang laut, ikan segar(kerapu,tongkol dan tenggiri) yang diekspor ke Malaysia dan Singapura, melalui Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan. Sementara jenis kepiting lembek dan cumi-cumi diekspor ke Hongkong, Korea dan Amerika Serikat. Prospek yang mengembirakan, adalah ikan hias jenis arwana, diskus, cupang, dan flower hom serta ikan hasil olahan yang berkualitas yang diekspor ke Thailand dan Jepang.

Keberadaan Kota Medan dengan Malaysia yang sangat dekat, telah membuka peluang kerjasama perdagangan komoditas hasil perikanan. Melihat komposisi ekspor komoditas hasil perikanan ke Malaysia dan Singapura terus meningkat. Produksi yang dihasilkan pada 2007 untuk jenis pelagis 352.100 ton, demersal 160.350 ton, ikan karang 19.436 ton dan udang 20.850 ton.

Pengolahan ikan asin adalah cara pengawetan dan penyelamatan hasil tangkapan nelayan dari proses kerusakan. Di pelbagai daerah di kota Medan, masih menempati posisi penting dan menjadi unggulan. Sebut saja hasil pengolahan ikan teri medan yang sangat terkenal dan digemari oleh masyarakat Indonesia.

Pengolahan ikan asin di Kota Medan banyak dijumpai di Kelurahan B Bahari, Bagan Deli, Kelurahan Belawan I, Kelurahan Labuhan Deli, dan Kelurahan Nelayan Indah (kampung nelayan). Kawasan ini juga dikenal sebagai home base wisata bahari dengan luas sekitar 420 hektar. Penduduknya, selain mengolah ikan asin juga sebagai nelayan. “Ikan asin unggulannya adalah cincang rebung,” pungkas Wahid.


0 komentar:

Opini

H.Yussuf Solichien Martadiningrat
Pengamat Politik Militer dan Ketua Umum DPP HNSI.

Setelah Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan dapat dikuasai, Malaysia berambisi untuk menguasai perairan Blok Ambalat yang diperkirakan kaya sumber daya minyak dan gas bumi. Keberanian Malaysia untuk mengklaim wilayah peairan Blok Ambalat tidak datang secara tiba-tiba, namun merupakan hasil kalkulasi politik dan strategi perang yang sudah diperhitungkan secara mendalam. Read more...

Tokoh

Alex Retraubun,Dirjen KP3K, DKP
Memberdayakan Pulau-pulau Kecil

Isu Ambalat belakangan ini kembali menyeruak. Pelanggaran yang dilakukan armada tempur milik Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) di kawasan garis batas (borderline) di perairan sekitar Blok Ambalat. Semisal, pada 4 Juni lalu, sebuah kapal perang Malaysia kembali masuk sekitar dua mil kedalam wilayah negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Read more....



Advertorial

Launching PNPM Mandiri
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM Mandiri-KP) resmi diluncurkan. Suatu upaya untuk memberdayakan masyarakat pesisir secara mandiri.
PNPM Mandiri KP merupakan bagian dari program nasional penanggulangan kemiskinan dalam lingkup PNPM Mandiri kategori penguatan. Program ini merupakan program pemberdayaan yang berbasis sektoral, kewilayahan, dan difokuskan untuk menanggulangi kemiskinan.
(advertorial Samudra Edisi April 2009)

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP