MAJALAH SAMUDRA ADALAH REFERENSI TEPAT INFORMASI KELAUTAN DAN PERIKANAN INDONESIA YANG ANDA BUTUHKAN
Edisi Juli 2009....
Adaptasi Perubahan Iklim
Sejumlah kota di Asia Tenggara rentan terhadap perubahan iklim. Jutaan warga harus direlokasi. Jakarta kota yang paling rentan
Teropong
Perairan Ambalat kembali memanas. Siapa yang paling berhak memiliki blok yang kaya akan minyak tersebut ?


Segera Hubungi Layanan Jual Kami !!!
Telp : (021) 782 7012



Jumat, April 03, 2009

Upaya Menyelamatkan Perburuan Ikan paus

Laut Sawu yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terkenal sebagai habitat ikan paus terkaya. Namun di balik itu semua, perburuan paus terus terjadi. Kalau tidak terkontrol, bisa jadi, kawasan tersebut sepi ikan paut. Salah satu upaya menyelamatkan populasi ikan paus adalah dengan menjadikan laut tersebut sebagai kawasan konservasi nasional.

Gagasan semacam itu dilontarkan Direktur Konservasi dan Taman Nasional Laut, Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Agus Dermawan. Menurutnya, rencana deklarasi Laut Sawu sebagai kawasan konservasi nasional akan dilakukan saat digelarnya World Ocean Confrence and Coral Triangle Initiative Summit di Manado, Sulawesi Utara, Mei mendatang.
"Setelah dideklarasi, laut seluas 4,5 juta hektare tersebut akan menjadi satu-satunya kawasan konservasi nasional yang khusus melindungi ikan paus," kata Agus, di sela-sela acara seminar nasional bertajuk Moluska II: Peluang Bisnis dan Konservasi di Bogor. Pemerintah pusat dan daerah akan berbagai peran dalam mengelola kawasan tersebut. "Gubernur NTT mendukung rencana tersebut," kata Agus.
Sawu dipilih menjadi kawasan konservasi nasional karena laut antara Provinsi NTT dan Australia tersebut merupakan tempat habitat terbesar ikan paus. Laut Sawu merupakan jalur migrasi 14 jenis ikan paus, termasuk jenis langka, yakni ikan paus biru (Balaenoptera musculus) dan ikan paus sperma (Physeter macrocephalus).
Menurut dia, masyarakat setempat menjadikan ikan paus tersebut sebagai satwa buru. Hal ini perlu diwaspadai karena jika perburuan ini tidak terkontrol bisa jadi ikan paus dari jenis langka itu bisa punah.

Sejak Abad Ke-17
Tidak mudah memang bagi masyarakat Lamalera yang tinggal di sekitar Laut Sawu. Bukan apa-apa, mereka sudah terbiasa memburu ikan paus itu sejak tahun 1600-an. Dulu, paus-paus yang berhasil diburu diumumkan di gereja, tetapi kebiasaan tersebut kini tak dilakukan lagi. Kegiatan tersebut dalam istilah setempat dikenal dengan Nuang Leva yang dalam bahasa daerah Lamaholot berarti musim melaut.
Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata, NTT, sejak tahun 1957 perburuan itu telah membunuh sekitar 475 paus. Maklum, setiap tahun mereka berhasil membunuh antara 20 - 50 paus. Hasil pembantaian paus terbanyak dalam tempo 22 tahun terjadi pada 1969, yakni 56 paus. Lalu pada 2007 dibunuh 48 paus.
Perburuan agak mengendor pada 1983, yakni hanya dua paus. Namun selama dua tahun (2004-2005), perburuan tersebut tak terekam jumlah perolehannya.
Hal inilah yang dikhawatirkan oleh para penggiat konservasi di Indonesia. Bukan apa-apa, proses reproduksi paus berlangsung lambat dan menunggu sampai paus berusia dewasa 20 tahun dan bisa melahirkan bayi. Hal ini tentunya tak sebanding dengan populasi paus yang mati diburu.
Dalam pengertian biologis, paus tidak dikategorikan sebagai ikan tetapi mamalia (menyusui) yang tergolong dalam ordo Cetacean. Ia bernafas dengan paru-paru, memiliki sirip dada sebagai alat keseimbangan pada saat berenang, dan sirip ekor sebagai alat berenang. Setelah menyelam selama sekitar 90 menit pada kedalaman 1.000 meter, paus akan kembali permukaan air laut untuk menarik nafas. Nafas hangat dihembuskan paus sehingga tampak seperti air mancur.
Paus-paus berimigrasi dan melewati perairan Lamalera setiap musim. Menurut penelitian, terdapat 24 jenis paus di Perairan Indonesia. Lima jenis di antarnya digolongkan paus tidak bergigi (mysticati) dan selebihnya jenis bergigi (odontoceti).
Jenis paus lodan atau koteklema (Physeter catodon) merupakan paus bergigi yang banyak dijumpai di Laut Flores, Sawu, dan Banda. Daerah penyebaran paus meliputi Samudra Hindia, Samudra Pasifik, sampai perairan Kutub Utara (Benua Antartika).
Perkiraan jalur migrasi koteklema (sperm whale) dari Samudra Pasifik melewati Laut Banda, Laut Flores masuk Laut Sawu melalui perairan Pulau Alor dan ke Samudra Hindia di Selatan Sumba atau sebaliknya. Rute ini merupakan jalur tetap dan vital.
Selain arusnya bagus, juga pada saat tertentu terdapat banyak makanan berupa cumi-cumi yang hidup di kawasan laut dalam. Migrasi ini juga bertujuan mencari perairan yang hangat bagi paus untuk melahirkan. Paus yang baru dilahirkan akan selalu dekat dengan induknya untuk berlindung, meski harus bermigrasi ribuan mil jauhnya.
Sementara itu, paus biru (blue whale) tumbuh cepat. Saat lahir beratnya tiga ton dan akan mencapai 32 ton setelah tujuh bulan. Setiap induk paus hanya melahirkan seekor bayi paus. Ia membutuhkan makanan dan susu untuk bayinya. Karena itu paus akan migrasi setiap musim mencari perairan yang kaya makanan. Dan Laut Sawu merupakan salah satu jalur migrasi paus dalam mencari makanan.

Datangkan Wisman
Kampung kecil Lamalera yang terletak di pinggiran selatan Pulau Lembata sejak lama sudah menjadi sorotan wisatawan dunia. Maklum, di kampung kecil inilah para pemburu ikan paus itu berasal.
Mereka menggunakan sampan bercadik bernama paledang. Para nelayan mendekatkan paledang dengan ikan buruan. Lalu ikan raksasa tersebut ditombaki dengan tempuling (tombak) berpengait.
Caranya sedikit nekat, seorang nelayan melompat dari paledangnya. Tidak jarang mereka terseret hingga laut lepas, bila mangsa buruan itu buas dan tidak cepat mati.
Perburuan paus di Lamalera ini terjadi antara Mei-Oktober. Selama musim ini, kampung tersebut menebarkan bau amis dari jemuran dendeng daging Kotaklema. Hampir di setiap rumah penduduk dilengkapi ”pancuran dadakan”, khusus yang mengalirkan tetesan minyak dari potongan lemak dendeng yang dijemur. Sebagian tampungan minyak paus ini dipakai sebagai bahan bakar penerangan pelita di waktu malam.
Selama sepekan nelayan biasanya mampu menangkap 2-3 paus. Ada orang khusus yang ditugaskan untuk memantau pergerakan paus di laut. Ia duduk di ketinggian bukit sambil memandang ke laut. Kalau ada pergerakan paus, ia berteriak memanggil nelayan, pemilik perahu. Warga sekitar lalu mengejar dan menangkap. Inilah atraksi yang banyak mendapat sorotan wisatawan dunia.
Setiap musim berburu tiba, pantai-pantai di Kampung Lamalera tak sepi dari turis-turis asing. Maklum Lamalera juga dekat dengan Pulau Komodo yang selama ini sudah menjadi surga bawah laut bagi penyelam dunia.
Selama 2008, jumlah kunjungan wisman di beberapa kabupaten. Di antaranya Kota Kupang sebanyak 2,600 orang, TTS (189), Belu (202), Rote Ndao (580), Ende (2.276), Ngada (7.725), dan Sumba Barat (540). Sedangkan pintu masuk lainnya, seperti Manggarai Barat dan daerah lainnya belum memasukkan data. Wisman terbanyak biasanya berasal dari Australia, Belanda, Jerman, dan Jepang.
Selama kurun waktu 2007-2008 lalu, banyak nelayan yang mengaku semakin kesulitan memburu paus. Penyebabnya, mamalia laut tersebut semakin sulit ditemukan. “Inilah gambaran jika paus di perairan tersebut semakin punah,” kata Agus.
Karena alasan itulah lalu pemerintah akan menetapkan Laut Sawu sebagai kawasan konservasi. “Dengan pembentukan zonasi dan tata ruang laut, diharapkan kegiatan perburuan paus ini menjadi lebih terkontrol,” ujarnya.
Ke depan, penataan tata ruang ini menghasilkan mata pencaharian laternatif bagi masyarakat setempat. Penetapan zonasi ini, lanjut Agus, akan membagi perairan-perairan mana saja yang boleh dijadikan zona konservasi dan zona pemanfaatan. “Jadi kegiatan berburu bisa dilakukan di luar zona konservasi dan cara yang lebih terkontrol lagi,” kata Agus.
Sementara itu, organisasi lingkungan hidup dunia, World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia sudah mencatat beberapa langkah konkret untuk bekerja bersama pemerintah lokal dan regional dalam rangka mendorong pembangunan kawasan perlindungan laut dan pembangunan sosial ekonomi. Pada waktu yang bersamaan, WWF bekerja bersama masyarakat lokal juga untuk mengawasi perburuan paus.
Organisasi ini juga sudah memfasilitasi tiga kabupaten di NTT untuk mewujudkan pembentukan Kawasan Konservasi Laut (KKL) di Perairan Solor, Lembata dan Alor. Di antaranya diawali dengan lokakarya guna menyamakan persepsi, yang berlangsung di Lewoleba Kabupaten Lembata, sejak April 2008 lalu.
Menurut Wakil Direktur Program Kelautan WWF-Indonesia, Tri Agung, pembentukan KKL itu bertujuan untuk melestarikan sumber daya perikanan, pariwisata dan keanekaragaman hayati, khususnya mamalia laut. “Kami ingin mempertahankan berbagai potensi di perairan Solor, Lembata, dan Alor ini untuk anak cucu di masa depan. Kawasan konservasi ini sangat terkenal dengan ikan paus. Dari 27 jenis paus di dunia, 14 jenis di antaranya berada di kawasan tersebut, ” ujarnya.
w.rahardjo/sanny mk


0 komentar:

Opini

H.Yussuf Solichien Martadiningrat
Pengamat Politik Militer dan Ketua Umum DPP HNSI.

Setelah Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan dapat dikuasai, Malaysia berambisi untuk menguasai perairan Blok Ambalat yang diperkirakan kaya sumber daya minyak dan gas bumi. Keberanian Malaysia untuk mengklaim wilayah peairan Blok Ambalat tidak datang secara tiba-tiba, namun merupakan hasil kalkulasi politik dan strategi perang yang sudah diperhitungkan secara mendalam. Read more...

Tokoh

Alex Retraubun,Dirjen KP3K, DKP
Memberdayakan Pulau-pulau Kecil

Isu Ambalat belakangan ini kembali menyeruak. Pelanggaran yang dilakukan armada tempur milik Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) di kawasan garis batas (borderline) di perairan sekitar Blok Ambalat. Semisal, pada 4 Juni lalu, sebuah kapal perang Malaysia kembali masuk sekitar dua mil kedalam wilayah negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Read more....



Advertorial

Launching PNPM Mandiri
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM Mandiri-KP) resmi diluncurkan. Suatu upaya untuk memberdayakan masyarakat pesisir secara mandiri.
PNPM Mandiri KP merupakan bagian dari program nasional penanggulangan kemiskinan dalam lingkup PNPM Mandiri kategori penguatan. Program ini merupakan program pemberdayaan yang berbasis sektoral, kewilayahan, dan difokuskan untuk menanggulangi kemiskinan.
(advertorial Samudra Edisi April 2009)

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP