MAJALAH SAMUDRA ADALAH REFERENSI TEPAT INFORMASI KELAUTAN DAN PERIKANAN INDONESIA YANG ANDA BUTUHKAN
Edisi Juli 2009....
Adaptasi Perubahan Iklim
Sejumlah kota di Asia Tenggara rentan terhadap perubahan iklim. Jutaan warga harus direlokasi. Jakarta kota yang paling rentan
Teropong
Perairan Ambalat kembali memanas. Siapa yang paling berhak memiliki blok yang kaya akan minyak tersebut ?


Segera Hubungi Layanan Jual Kami !!!
Telp : (021) 782 7012



Tampilkan postingan dengan label Edisi Maret 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi Maret 2009. Tampilkan semua postingan

Senin, April 06, 2009

Tambak Pandu Karawang: Mampu Mengatasi Tantangan

Kawasan pengembangan usaha budidaya udang nasional tambak inti rakyat
kebanggaan Suharto. Hancur porakporanda dan dijarah masyarakat.
Kini, bangkit menjadi andalan usaha produksi perikanan budidaya.

n anak muda ini seragam yakni Reformasi. Tekanan digencarkan hampir setiap hari, pelbagai aksi demo pun digelar di mana-mana. Di Jakarta, sasarannya, adalah gedung dewan perwakilan rakyat di Senayan. Mahasiswa dan massa menggunakan ratusan bus kota, metromini dan ribuan sepeda motor memenuhi jalan jalan protokol Ibukota.

Puncaknya, Ratusan ribu mahasiswa berhasil menghalau ribuan tentara, polisi dan aparat keamanan lainnya yang menjaga. Gedung wakil rakyat yang terhormat ini berhasil di kuasai dan diduduki sampai keatap langit. Didera aksi mahasiswa itu selang seminggu kemudian, pada 21 Mei 1998. Akhirnya, Presiden Suharto mengambil keputusan menyerah alias lempar handuk. Dan, menyatakan secara resmi pengunduran dirinya sebagai presiden ke 2 yang berkuasa lebih dari tiga puluh tahun. Selanjutnya, prosesi pelantikan kepada wakil presiden Burhanuddin Jusuf Habibie menjadi presiden RI ke 3. Untuk menjalankan roda kepemerintahan berbangsa dan bernegara.

Rezim orba berlalu sudah dan beralih menjadi eranya reformasi. Dialam keterbukaan yang baru seumur jagung. Demokrasi yang terpasung selama puluhan tahun. Berjalan tampa arah dan bahkan kebablasan. Pengerusakan simbol – simbol kejayaan milik keluarga cendana. Mulai dirusak dan dijarah oleh massa yang tidak bertanggung jawab. Semisal, peternakan sapi di Tapos, Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Begitupula halnya dengan Proyek Pandu Tambak Inti Rakyat (PP-TIR) di Desa Pustaka Jaya Utara, Karawang, Jawa Barat. Akibat penjarahan dan pekaplingan lahan tambak oleh masyarakat dan hampir semua asset menjadi rusak, hilang dan hancur.

Terjadinya reformasi di Indonesia memberikan dampak negatif terhadap hampir seluruh kegiatan perekonomian. Kondisi demikian juga berimbas pada PP-TIR, dan menyebabkan terhentinya semua kegiatan. Ironis, ratusan karyawan yang bekerja sejak dibangunnya PP-TIR berdasarkan Keppres Nomor 18 tahun 1984, menjadi tidak jelas nasib mereka. Sejatinya, tujuan dibangunnya tambak ini untuk mewujudkan kawasan percontohan usaha budidaya udang. Dengan sasaran, maju, ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dan, guna memandu pengembangan usaha budidaya undang nasional.

Pasca kerusuhan massa Mei 1998 terjadi kevakuman. Lima tahun kemudian pada 15 Juni 2002 oleh Sekretariat Negara, PP-TIR diserah terimakan kepada Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai Departemen teknis. Melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, dilakukan penjajakan, pendekatan dan identifikasi terhadap pelbagai masalah yang ada di lapangan. Kemudian, pada 2004 – 2005 dilakukan upaya pemulihan dengan program pemberdayaan masyarakat sekitar. Memasuki 2006 sejalan dengan dilaksanakan program revitalisasi perikanan nasional, Ditjen Perikanan Budidaya mengarahkan eks PP-TIR menjadi etalase dan inkubator bisnis pengembangan paket-paket usaha perikanan budidaya. (Sanny Mk)
Selengkapnya di Majalah Samudra Edisi Maret 2009

Read more...

PPS Bitung : Berusaha Menyaingi General Santos

Dalam kurun waktu relatif singkat, pelabuhan ini naik kelas.Dari berstatus nusantara melesat menjadi samudera.

Sejumlah pekerja sedang membersihkan dinding, meja serta lantai berwarna dominan putih terbuat dari keramik. Ada yang mengosok meja, menyikat lantai dan lain sebagainya. Kesibukan para pekerja itu, dilakukan usai mereka bekerja membersihkan ikan. Dari bagian ikan yang tidak diperlukan, ditaruh dalam tempat untuk dimusnahkan.
Keteraturan itu dijalankan karena mengacu standar international. Dengan demikian, aspek kelestarian lingkungan sekitar dapat terjaga dan tidak memunculkan pencemaran.

Penanganan ikan yang di beli dari hasil tangkapan nelayan sekitar, lalu diolah sesuai permintaan pembeli. Produk hasil pengolahan ikan tuna, cakalang, layang, pedang, marlin, lemadang, tongkol dan tenggiri ini di pasarkan dalam bentuk ikan segar, ikan beku, ikan kaleng, ikan kayu atau hasil olahan setengah jadi. Negara tujuan ekspor seperti, Amerika, Jepang, Singapura, Taiwan, Cina, Philipina serta beberapa negara Uni Eropa

“ Kami harus menjaga kebersihan baik di luar maupun dalam pabrik pengolahan ikan agar selalu higienis,” kata Budi Wahono Manager Unit Pengolahan Ikan (UPI) PT Sari Tuna Makmur di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung, Sulawesi Utara , kepada Samudra, Sabtu (28/2) lalu. Tahun lalu, pihaknya, telah memasarkan sekitar 400 ton produk hasil pengolahan perikanan ke Israel, Rusia, Belanda, dan Austria.

Sudah menjadi ketentuan dan harus diterapkan bagi pelaku usaha perikanan yang berorientasi ekspor. Yakni, semisal, standar baku sistem cold chain system (sistem rantai dingin). Ketika ikan hasil tangkapan oleh nelayan, diatas kapal harus mendapat penanganan yang prima sesuai prosedur. Kemudian, saat mendaratkan ikan dan membawanya ke pabrik pengolahan sistem rantai dingin harus dilaksanakan sebaik-baiknya. “Jika tidak, kualitas ikan akan menurun. Harganya pun menjadi rendah,”kilah Budi.

Dia menambahkan, pihaknya, memulai usaha pada 2001. Alasan utamanya, adalah hasil tangkapan ikan tuna, cakalang, layang di perairan Sulut ini terbilang berkualitas baik. Ketika itu PPS Bitung, belum selengkap seperti ini. Statusnya pun masih tempat pelelang ikan (TPI) yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat.laju usaha PT Sari Tuna Makmur(STM), terus berkembang. Nah, pada 2006, kami menyewa lahan seluas 1500 meter persegi di PPS Bitung. “Saat ini kami bisa memproduksi 250 ton tiap bulan. Sementara produk ekspor ikan segar beku sedikitnya 8 ton tiap hari, ke Rusia, Israel, Belanda, dan Austria,” tukasnya.(Sanny mk)
Selengkapnya di Edisi Maret 2009

Read more...

Opini

H.Yussuf Solichien Martadiningrat
Pengamat Politik Militer dan Ketua Umum DPP HNSI.

Setelah Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan dapat dikuasai, Malaysia berambisi untuk menguasai perairan Blok Ambalat yang diperkirakan kaya sumber daya minyak dan gas bumi. Keberanian Malaysia untuk mengklaim wilayah peairan Blok Ambalat tidak datang secara tiba-tiba, namun merupakan hasil kalkulasi politik dan strategi perang yang sudah diperhitungkan secara mendalam. Read more...

Tokoh

Alex Retraubun,Dirjen KP3K, DKP
Memberdayakan Pulau-pulau Kecil

Isu Ambalat belakangan ini kembali menyeruak. Pelanggaran yang dilakukan armada tempur milik Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) di kawasan garis batas (borderline) di perairan sekitar Blok Ambalat. Semisal, pada 4 Juni lalu, sebuah kapal perang Malaysia kembali masuk sekitar dua mil kedalam wilayah negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Read more....



Advertorial

Launching PNPM Mandiri
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM Mandiri-KP) resmi diluncurkan. Suatu upaya untuk memberdayakan masyarakat pesisir secara mandiri.
PNPM Mandiri KP merupakan bagian dari program nasional penanggulangan kemiskinan dalam lingkup PNPM Mandiri kategori penguatan. Program ini merupakan program pemberdayaan yang berbasis sektoral, kewilayahan, dan difokuskan untuk menanggulangi kemiskinan.
(advertorial Samudra Edisi April 2009)

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP